Thursday, August 6, 2015

Melatih Berbagi sejak Dini

Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.” (QS. Al Hadiid: 7)

 Sifat-sifat anak itu tak cukup dibentuk dengan memberi pengetahuan, misalnya penjelasan, nasehat, dan seterusnya. Pengetahuan memang penting, tapi kemampuannya untuk membentuk sifat sangat kecil.
 Yang dapat membentuk sifat anak adalah latihan dan contoh (pendidikan). Jika dua hal ini sering kita lakukan lalu ditambah dengan pengetahuan, maka hasilnya menjadi optimal.
 Melatih dan memberi contoh anak-anak untuk berbagi menjadi hal yang sangat mendasar. Kenapa? Ini semua akan berdampak pada keharmonisan hidup, kebahagiaan,  dan keberhasilan, baik untuk masa kini dan masa mendatang.
 Bagi orangtua yang masih susah menemukan solusi dari hubungan anak-anak yang diwarnai cekcok, maka melatih mereka untuk berbagi menjadi solusi penting. Misalnya berbagi mainan, makanan, dan seterusnya.
 Dengan latihan itu mereka akan terbiasa untuk berempati atau peduli. Mereka akan terbiasa mengalahkan ego / nafsu individualistiknya. Jika ini sudah muncul, maka lahirlah hubungan yang saling tolong menolong.
 Di sisi lain, tolong menolong itu sangat bagus untuk melatih anak agar bisa berbagi dan peduli. Misalnya, si kakak mengambilkan handuk si adik, dan begitu juga si adik membantu si kakak.
 Jika si Kecil sudah kita latih berbagi, ini akan meningkatkan keharmonisannya saat nanti sudah bergaul dengan anak-anak lain di sekolah. Seperti kita alami, yang menjadi sumber konflik dalam pergaulan adalah egoisme (terlau besar memikirkan diri sendiri).
 Bahkan kalau kita kaitkan dengan rasa bahagia, maka memberi itu menempati urutan tertinggi kedua (Setelah pengabdian pada nilai-nilai) sebagai sumber kebahagiaan yang tidak sementara sifatnya.
 Secara psikologis, jiwa yang mindset-nya memberi itu ternyata jauh lebih sering dan lebih lama merasakan kebahagiaan ketimbang jiwa yang mindset-nya meminta atau menuntut.
Tapi, meski sudah kita latih mereka untuk berbagi, tidak berarti mereka lantas menjadi “malaikat kecil”, yang selalu harmonis dan bahagia. Konflik, gesekan dan kesalahan selalu terjadi dan harus terjadi sebagai bagian dari pendidikan. Yang akan membedakan adalah jiwanya. 
 Untuk kepentingan jangka panjang, latihan berbagi sejak dini itu punya sumbangan yang luar biasa besarnya terhadap keberhasilan hidup di berbagai bidang, baik di profesi, perkawinan, atau dalam kehidupan sosial.
 Kenapa? Untuk mencapai keberhasilan, syaratnya adalah kemampuan mengelola jaringan. Untuk bisa mengelolanya, seseorang harus punya jiwa berbagi yang dikembangkan ke berbagai sifat, misalnya memaafkan, menolong, mengembangkan, dan seterusnya.
 Meski latihan berbagi itu penting, tapi jangan sampai berlebihan. Ini adalah bencana kebaikan. Selain itu, motifnya harus selalu kita luruskan. Jangan sampai si Kecil
baik karena takut atau lemah. Anak kita harus menjadi orang baik, tapi tidak boleh lemah.
 Semoga bisa kita jalankan.

taken from:
https://www.sahabatnestle.co.id/content/view/pentingnya-latihan-berbagi-sejak-dini.html

0 comments:

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More